Jumat, 07 Juni 2013

SELAMAT KARENA SETIA AKAN JANJI

Hari ini saya bersilaturrahim kepada empat orang yang saya anggap orang yang banyak berjasa atas diri saya dan kedewasaan saya, dan saya kagum akan kesuksesannya, dengan maksud ingin mendapatkan nasehat yang bijak atas diri saya karena kesalah-kesalahan masa lalu saya. Datang ke orang pertama, disambut begitu hangat, canda tawanya masih tetap seperti 15 tahun yang lalu, gak ada yang berubah walau saya merasa begitu banyak kesalahan yang pernah aku buat padanya, padahal dia hanyalah seorang karyawan sebuah travel haji umroh. Datang ke orang kedua, seorang Direktur yang sukses mengelola Radio terkenal di Timur Jakarta. Saya hanya disambut di depan pintu lalu bilang, " maaf aku capek banget baru saja terbang dari kalimantan, mau istirahat sebentar, nanti agak siangan datang ke kantor saya ", dari situ saya masih bisa memaklumi, namun begitu kagetnya saya, ketika beliau bertanya, "sekarang istrimu sudah berapa ? ", seingat saya, itu adalah pertanyaan 4 tahun yang lalu waktu saya terakhir ketemu beliau, saya tidak menjawab, lalu saya pamit pergi, di perjalanan saya kemudian interopeksi diri, sedemikian playboy nyakah diri saya ini, hanya karena saya menikah lagi, padahal beliau belum pernah tau yang sebenarnya mengapa saya menikah lagi dan siapa sosok wanita yang saya nikahi itu. Datang ke orang ketiga, disambut dingin walau tak sedingin es, berharap ada satu nasehat atau koreksi dari lisan beliau atas diri saya, namun tak sepatah nasehatpun keluar, saya tau memang saya pernah satu Jamaah dengan beliau, tapi saya dikeluarkan dari Jamaah itu dengan alasan yang sampai sekarang tak pernah saya mengerti, ya mungkin saya dianggap Pengkhianat. Padahal beliau adalah orang senior sebuah Jamaah Besar yang telah menusantara. Lalu saya datang ke orang yang keempat, saya lihat ada buliran air mata setelah melihat saya dan menanyakan keadaan saya dan keluarga, seolah ingatannya kembali 5 tahun yang lalu, ketika saya mengelola rumah besarnya yang nyaris seperti rumah hantu dan membantu suaminya yang sendirian di rumah itu karena beliau belum mau tinggal di rumah angker dan sengketa itu, kini dia bahagia berkumpul sama suami dan anak-anaknya di rumah yang penuh barokah dengan kegiatan pendidikan dan keagamaan yang tiada henti. Alhamdulillah, saya melihat diri ini tidak sependendam dulu, lebih bisa menerima semuanya, lebih melihat kesalahan masa lalu saya yang mungkin begitu menyakitkan bagi sebagain orang. Begitulah kehidupan, memang TIDAK ADIL, selalu memihak orang-orang istimewa, namun akankah kita berhenti dan menyalahkan ketidakadilan kehidupan itu ? Ada satu kisah yang sangat haru, tentang arti sebuah kesetiaan dan maaf seorang sahabat... Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ra., jatuhlah vonis pembalasan (qishash) terhadap seorang pemuda yang menyerahkan diri karena telah membunuh sesaama Muslim. Pemuda itu kemudian menyampaikan permohonannya untuk kembali ke kampung halamannya. Ia ingin berpamitan kepada keluarganya, menyelesaikan amanah, dan membayar utang. Khalifah mengabulkan permohonan tersebut dengan satu syarat, ada seorang badal atau orang yang menjamin perkataan pemuda tersebut. Apabila ia berbohong, badallah yang akan menerima hukumannya. Namun, tak seorang pun yang mau menjadi badal bagi si pemuda. Apalagi, ia tidak mempunya sanak keluarga di Madinah. Tak lama berselang, datanglah salah satu sahabat Rasulullah saw., Abu Dzar Al-Ghifari. “Akulah yang akan menjadi badal untuknya,” kata Abu Dzar Al-Ghifari. Semua orang sepakat. Abu Dzar dan pemuda lalu menandatangani perjanjian. Si pemuda diperbolehkan kembali ke kampung halamannya selama tujuh hari. Datanglah hari yang dinantikan-nantikan tersebut. Sudah tujuh hari berselang sejak kepergian si pemuda ke kampung halamannya. Namun, tak tampak kehadiran nya di majelis qishash. Orang-orang berkerumun, riuh rendah oleh isak tangis melihat sahabat Rasulullah saw. akan dipenggal lehernya sebagai badal. Hadir pula tiga orang putra dari keluarga korban. Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat debu beterbangan dan disusul sesosok pemuda dengan rambut kusut masai. Ia tiba di selatan masjid dengan diiringi takbir. Bergegas si pemuda menghadap sang Khalifah dan Abu Dzar. Masyarakat menarik napas lega mengetahui Abu Dzar selamat dari qishash. Namun, kejadian tersebut membuat Abu Dzar tertegun. “Aku sangat terkesan oleh sikapmu dalam menepati janji. Kau kembali ke Madinah tepat pada waktunya, padahal bisa saja melarikan diri di tengah-tengah padang pasir. Hal apakah yang membuatmu bersikap demikian itu?” Tanya Abu Dzar. “Kau benar, Abu Dzar. Memang aku bisa melarikan diri dan bebas dari hukuman. Namun, aku malu jika nanti tergores dalam sejarah bahwa pernah ada seorang Muslim yang ingkar janji untuk kepentingan dirinya dan tidak mau menjaga diri sebagai Muslim. Bukankah Allah Ta’ala Maha Melihat? Aku sangat menyesal telah membunuh lelaki itu karenanya aku ingin meminta maaf kepada putra beliau.” Berdirilah putra tertua dari si korban dan berkata, “Kami anak-anak dari korban telah memaafkan orang ini. Kami pun malu jika seandainya nanti tergores dalam sejarah bahwa ada seorang Muslim yang tidak mau memaafkan kesalahan sesamanya!” Demikian mereka membatalkan tuntutannya. Akhirnya, terhukum dilepaskan dan dinyatakan bebas dari hukuman. Subhaanallah indahnya Islam kala itu..... Sahabat, hidup yang sesa'at ini.....akankah kita tergores dan menggoreskan LUKA dan SAKIT HATI dari sahabat dan keluarga kita ? Relakan dan maafkan, maka dunia akan begitu indah.



Semoga artikel SELAMAT KARENA SETIA AKAN JANJI bermanfaat bagi Anda.

Posting Komentar

AVairst - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik